MANUSIA DAN KETUHANAN

 MANUSIA DAN KETUHANAN


 

APengertian Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Manusia adalah spesies yang unik dalam kerajaan kehidupan. Mereka memiliki kemampuan untuk berfungsi baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Manusia dapat menjalani kehidupan yang memadukan kebutuhan pribadi dengan keterlibatan dalam komunitas mereka. Hal ini mencerminkan keseimbangan yang rumit antara aspek individu dan sosial dalam kehidupan manusia.

Ketika manusia berhasil menggabungkan peran ini dengan baik, mereka dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kontribusi positif dalam masyarakat. Ini adalah salah satu ciri khas utama yang membedakan manusia dari spesies lain di planet ini.

1. Pengertian Manusia sebagai Makhluk Individu.

Manusia dapat diartikan berbeda-beda, dari segi biologis, rohani dan istilah kebudayaan atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo  sapiens, spesies primate dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, manusia dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi, di agama dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan atau makhluk hidup. Dalam antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan manusia sebagai makhluk individu.

a. Pandangan Nativistik

Para ahli berpendapat bahwa faktor pertumbuhan yang satu ini ditentukan oleh faktor-
faktor lain yang dibawa individu sejak lahir. Artinya, pertumbuhan seseorang ditentukan oleh faktor individu itu sendiri, baik kemiripan dengan orang tua, bakat, dan potensi.

b. Pandangan Empiristik

Faktor pertumbuhan yang satu ini sedikit berlawanan dengan nativistik, yakni faktor pertumbuhan seorang individu dilatarbelakangi oleh lingkungan.

c. Pandangan Konvergensi

Faktor pertumbuhan yang terakhir dapat dikatakan kolaborasi kedua pandangan di atas. Faktor pertumbuhan individu yang satu ini didorong oleh interaksi dasar dan lingungan sekitar.

Berdasarkan psikologi, tahap pertumbuhan individu terbagi menjadi empat, yakni:

1) Masa vital (0-2 tahun)

2) Masa estetik (2-7 tahun)

3) Masa intelektual (7-14 tahun)

4) Masa sosial (14-21 tahun)

Selanjutnya, pengalaman subjektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya. Kesadaran diri atau pikiran memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri, dan dari perjalanan waktu. Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar (tak sadar). Praktik psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar. Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego. Carl Gustav juga memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif/bersama, dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketetapan pendefinisian individu yang dapat diartikan. Manusia perlu membangun relasi dengan diri sendiri, relasi dengan sesama, relasi dengan dunia luar dan yang lebih penting lagi adalah membangun relasi dengan Tuhan. Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah dan pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus. Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam nalar pikir dan akal budi mereka, maka mereka tidak akan selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern. Mungkin mereka merasa ada yang kurang dalam sisi spritualitasnya dan berusaha menyempurnakannya dari sumber-sumber lain. Bila ini terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar pintu spritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spritualitas yang benar.

Lantas, apa yang dimaksud dengan individu? Sebenarnya individu berasal dari bahasa Latin individuum yang berarti tidak terbagi. Sedangkan dalam bahasa Inggris, individu berasal
dari kata in dan divided. Jika diartikan, individu bermakna tidak terbagi atau menjadi satu kesatuan. Mengapa begitu? Pada dasarnya manusia lahir sebagai makhluk individual yang tidak terpisah, tidak terbagi antara jiwa dan raganya.

Perkembangan manusia sebagai makhluk individu tidak hanya berarti kesatuan jiwa dan raga. Manusia sebagai makhluk individu memiliki makna yang lebih luas dari itu, yakni manusia memiliki ciri khas dengan corak kepribadiannya sendiri.

Meskipun memiliki saudara kembar, kepribadian seorang individu dengan individu lainnya sangatlah berbeda. Orang yang terlahir kembar tidak akan memiliki ciri fisik dan ciri psikis yang persis sama. Secara umum dapat dilihat bahwa manusia memiliki perangkat fisik yang sama, tetapi jika kita perhatikan lebih jauh maka akan terlihat jelas perbedaan-perbedaan yang dimiliki setiap individu. Berbagai perbedaan tersebut akan nampak pada bentuk, ukuran, sifat, dan sebagainya.

Ketika berada dalam kumpulan atau kerumumam ribuan bahkan jutaan manusia, anda akan tetap bisa mengenali seseorang yang sudah anda kenal karena orang tersebut memiliki ciri fisik yang dikenali. Sebaliknya, anda akan merasa kesulitan untuk mengenali satu hewan di tengah ribuan atau bahkan jutaan hewan yang sejenis. Seorang individu tak hanya mudah dikenali melalui ciri fisik atau biologisnya, melainkan anda juga bisa mengenalinya melalui sifat, karakter, gaya, perangai, dan selera. Tetapi, ciri fisik menjadi senjata utama bagi anda untuk mengenali orang. Karena secara fisik ada orang yang bertubuh gemuk, kurus, langsing, rambut lurus, rambut ikal, warna kulit yang coklat, putih, dan sebagainya. Kemudian, anda bisa mengenali seseorang melalui sifat, karakter, dan perangainya. Karena secara sifat ada orang yang sabar, periang, cerewet, pemarah, dan lain-lain.

Jadi, sebutan individu dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil atau terbatas. Individu dapat dipahami sebagai manusia perorangan sehingga kerap dipakai sebagai sebutan “orang-seorang” atau “manusia perorangan”. Individu dapat diartikan sebagai seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di lingkungan sosialnya, tetapi juga memiliki kepribadian serta pola tingkah laku spesifik mengenai dirinya.

Kemudian, ada beberapa aspek yang melekat terhadap penilaian setiap individu, yakni aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek sosial. Kesatuan aspek jasmani dan rohani tadi, dapat menjadi pengertian dari kata individu.

Apabila terjadi sebuah guncangan pada salah satu aspek, maka akan membawa akibat
pada aspek lainnya. Kemampuan rohaniah individu dapat membantunya berhubungan dan berpikir. Selain itu, kemampuan aspek rohaniah individu dapat mengendalikan dan memimpin akal untuk mengatasi setiap masalah dan kenyataan yang dialaminya. Unsur atau aspek-aspek tersebut harus menyatu dalam dirinya agar seseorang dapat dikatakan manusia sebagai makhluk individu. Jika unsur atau aspek-aspek tersebut tidak menyatu lagi, maka seseorang tidak dapat disebut sebagai individu.

Apabila seseorang hanya tinggal memiliki raga, fisik, atau jasmaninya saja, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai individu. Sebutan individu hanya berlaku bagi manusia yang punya keutuhan organik jasmaniah, psikis-rohaniah, dan aspek sosial.

Tanpa adanya suatu masyarakat yang menjadi latar belakang keberadaanya, identitas individu tidak akan jelas. Untuk membentuk perilaku yang selaras dengan keadaan, individu perlu mengambil jarak dan memproses dirinya. Selain itu, individu juga perlu membentuk kebiasaan yang sesuai dengan perilaku pada dirinya.

Sebagai makhluk individu, manusia selalu berada di tengah-tengah kelompok individu lainnya. Manusia sebagai makhluk individu memerlukan lingkungan yang akan membantu mematangkan pembentukan pribadinya. Ada saatnya lingkungan menjadi faktor penghambat dan faktor pendukung proses pembentukan individu. Lingkungan masyarakat sangat berpengaruh terhadap pembentukan individualitas. Begitupun sebaliknya, individu juga mampu untuk memengaruhi lingkungan masyarakat. Kemampuan yang dimiliki setiap individu menjadi hal yang utama dalam menjalin hubungan dengan manusia lainnya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk individu berhak atas milik pribadinya sendiri dan bisa disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indera mereka dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial. Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu. Manusia sebagai mahkluk individu juga memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Maksudnya, pribadi manusia atau individu memiliki ciri khas tersendiri atas keseluruhan jiwa raganya. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan manusia ke arah yang lebih maju atau lebih dewasa. Kemudian muncullah berbagai pendapat mengenai pertumbuhan. Pada dasarnya, proses asosiasi menjadi bagian dari pertumbuhan. Dapat dikatakan proses asosiasi adalah perubahan yang terjadi pada seseorang secara bertahap dan dipengaruhi oleh timbal balik dari pengalaman yang didapatkannya.

 

2. Pengertian Manusia sebagai Makhluk Sosial.


Manusia adalah makhluk sosial dalam arti manusia akan saling membutuhkan satu sama lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sosial adalah berkenaan dengan masyarakat. 

Menurut Gerungan (dalam A Kau dan Idris 2018, 269-270), bahwa manusia tidak dapat menjalankan kehidupannya sendiri bahkan dalam memenuhi kebutuhannya, manusia akan memerlukan manusia lain untuk membantunya. Dalam kehidupan sosial manusia akan saling berkomunikasi, bersosialisasi, dan juga berinteraksi dengan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk sosial akan membentuk perilaku dan kerja sama antar kelompok. Menurut Waluyo, dkk, (2008), bahwa manusia sebagai makhluk sosial akan berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok masyarakat seperti halnya gotong royong, tegur sapa antara satu dengan yang lain, menaati peraturan yang ada dalam suatu kelompok atau masyarakat, memiliki rasa empati, saling membantu orang lain, aktif dalam organisasi dalam masyarakat, menjaga hubungan yang baik, bersosialisasi dengan lingkungan, menerima perbedaan.

Dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Bersosialisasi di sini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya, maksudnya tiap manusia saling membutuhkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi.  Manusia pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan berketerkaitan dengan lingkungan dan tempat tinggalnya. Manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan demi kelangsungan hidupnya.

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki rasa empati, simpati, toleransi, setia kawan dan saling tolong menolong terhadap manusia lain. Hal tersebut yang membentuk keharmonisan dan kerukunan yang ada di lingkungan masyarakat sehingga muncul norma, etika dan sopan santun yang dianut oleh masyarakat. Ketika hal itu dilanggar maka akan terjadi sebuah penyimpangan sosial.

3. Peranan Manusia sebagai Mahluk Individu dan Sosial


Individu dalam hal ini adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik tentang dirinya. Akan tetapi, dalam banyak hal banyak pula persamaan di samping hal-hal yang spesifik tentang dirinya dengan orang lain. Di sini jelas bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian, serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Persepsi terhadap individu atau hasil pengamatan manusia dengan segala maknanya merupakan suatu keutuhan ciptaan Tuhan yang mempunyai tiga aspek yang melekat pada dirinya, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan aspek sosial. Apabila terjadi kegoncangan pada salah satu aspek, maka akan membawa akibat pada aspek yang lainnya.

Manusia mempunyai pengaruh penting dalam kelangsungan ekosistem serta habitat manusia itu sendiri, tindakan-tindakan yang diambil atau kebijakan-kebijakan tentang hubungan dengan lingkungan akan berpengaruh bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.

Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia memiliki tugas untuk menjaga lingkungan demi menjaga kelansungan hidup manusia itu sendiri di masa akan datang.

 

B. Tentang Ketuhanan

1. Pengertian Ketuhanan

Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi, Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, tetapi mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.

Tuhan bisa dikenal berdasarkan sifat-sifatnya, diantaranya Tuhan Maha Tahu, Kuasa, Kuat, dan lain-lain. Tuhan adalah nama zat yang disembah oleh ciptaannya. Tuhan tidak serupa dengan ciptaannya. Kata Tuhan merujuk kepada suatu zat abadi dan supranatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagad raya.
Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep yang mirip dengan ini, misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apa pun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.

 

2. Hubungan Manusia dengan Tuhan

Manusia adalah makhluk Tuhan yang diberikan akal dan pikiran, serta hati. Secara psikologi karakter manusia terbentuk dari tiga unsur, yaitu pikiran, hati nurani, dan hawa nafsu. Ketiganya ini harus barjalan dengan seimbang dan saling mengendalikan satu sama lain untuk menjadikan karakter yang baik pada manusia tersebut. Maka, manusia semasa hidupnya dalam setiap pekerjaan dan kegiatannya selalu menggunakan ketiga unsur tersebut. Sejak dilahirkan, manusia tentu saja telah memilki karakter bawaan dari orang tuanya, dan memiliki berbagai macam pengalaman semasa hidupnya sampai dia dewasa.

Hubungan manusia dengan Tuhan dapat digambarkan dengan kelemahan manusia dan keinginan untuk mengabdi kepada yang lebih agung. Manusia yang lemah memerlukan pelindung dan tempat mengadu segala permasalahan. Terkadang memang permasalahan yang tidak pelik mudah dan dapat diselesaikan oleh manusia sendiri. Namun, tak jarang persoalan himpitan hidup, rasa putus asa, hilangnya harapan dan lain sebagainya tak mungkin diselesaikan sendiri. Maka ia butuh sesuatu yang sempurna, yaitu Tuhan. Tempat mengadu segala persoalan hidup. Tanpa-Nya, manusia bisa jadi kehilangan arah dan tujuan hidup.

Aktivitas kehidupan manusia di dalam menyembah Tuhannya merupakan pokok ajaran utama agama yang ada, namun pertanggung jawabannya adalah secara individu, artinya dalam aktivitas ini manusia bertanggung secara pribadi kepada Tuhannya.

Sebagai contoh.

  •         Aktivitas penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  •    Aktivitas yang berhubungan dengan pemantapan mental spiritual agama, misalnya puasa dan sebagainya.

Hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam sangatlah erat. Tuhan sebagai zat yang menciptakan manusia. Manusia dan Alam sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan.  Jika peran Tuhan tidak ada manusia dan alam tidak akan tercipta. Hubungan manusia dengan Tuhan disebut pengabdian (ibadah). Pengabdian manusia bukan untuk kepentingan Tuhan.  Tuhan tidak berhajat (berkepentingan) kepada siapa pun, pengabdian itu bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada asal penciptanya yaitu fitrah (kesucian)nya. Agar kehidupan manusia diridhoi oleh Tuhan.


Hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah suatu hubungan yang tidak mungkin dipisahkan. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan, mustahil bisa berlepas diri dari keterikatannya dengan-Nya. Bagaimana pun tidak percayanya manusia dengan Tuhan, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar  manusia akan  mengikuti sunatullah yang berlaku di alam semesta ini.

Sesungguhnya hubungan antara Tuhan dan manusia sudah disadari oleh sebagian besar manusia sejak dahulu.  Mereka sudah mendudukkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta tapi mereka masih terhalangi, baik oleh kejahilan atau kesombongan,  untuk menempatkan Allah sebagai yang disembah. Manusia yang demikian belumlah sempurna kehidupannya karena ia telah mengingkari  sesuatu  yang hak dan telah berlaku dzolim, dengan menempatkan sesuatu pada tempat yang salah.  

Oleh karena itu, seorang mukmin harus memahami bagaimana  hubungan  yang  seharusnya dibina dengan Tuhan. Hal yang penting di dalam membina hubungan itu, manusia  harus lebih dahulu  mengenal betul  siapa Tuhan. Bukan untuk  mengenali zat-Nya, tetapi mengenali  landasan dasar-Nya. Dengan memahami bagaimana luasnya kekuasan dan Ilmu Tuhan, akan timbul rasa kagum dan takut  kepada Tuhan sekaligus menyadari betapa kecil dan hina dirinya. Pemahaman itu akan berlanjut dengan kembalinya ia pada hakikat penciptaannya dan mengikuti landasan hidup yang telah digariskan oleh Tuhan.  Ia  menyadari  ketergantungannya kepada Tuhan dan merasakan keindahan iman kepada Tuhan.

Ada tiga hal yang dapat dijelaskan di dalam hubungan antara manusia  dan Tuhan setelah manusia mengenali Tuhan dengan benar. Pertama, pengenalan tersebut akan  membuahkan hubungan yang indah dengan-Nya. Hubungan itu akan ditandai dengan adanya rasa cinta yang sangat tinggi terhadap Tuhan. Bahkan mengalahkan rasa cintanya kepada  manusia lain ataupun benda yang dimilikinya. Rasa cinta tersebut akan membuatnya selalu optimis dan dinamis di dalam kehidupannya sebagai seorang mukmin, yang membuat   jiwanya selalu stabil di dalam berbagai kondisi. Kedua, Tuhan mengibaratkan hubungan manusia  dan Tuhan itu adalah seperti  hubungan  jual beli yang akan menyelamatkan orang-orang mukmin dari azab yang pedih. Selain itu Tuhan juga mengibaratkan amal sholeh  seorang mukmin sebagai  pinjaman yang diberikan kepada Tuhan. Dimana pinjaman itu akan Tuhan beli dengan harga yang sesuai dengan penilaian Tuhan. Pinjaman itu dapat berupa tenaga ataupun harta. Walaupun hakikatnya semua harta di langit dan di bumi adalah milik Tuhan dan diberikan sementara untuk manusia. Tetapi jika manusia gunakan harta itu untuk menegakkan kalimat Tuhan, maka Tuhan akan menganggapnya sebagai suatu pinjaman. Tuhan akan mengembalikan pinjaman itu dengan berlipat ganda dan tidak terbatas. Ketiga,  hubungan manusia (mukmin) dan Tuhan itu ditandai dengan adanya  kontrak kerja yang  menjadi kewajiban manusia, yaitu berupa amal sholeh. Manusia terikat dan terlibat didalamnya.  Baik amal yang bersifat umum (ibadah) maupun amal khusus. Amal tersebut lebih dari sekadar untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk  mengajak orang lain beribadah. Sehingga tidak dibenarkan seorang mukmin memisahkan diri, tetapi ia harus selalu berhubungan dengan manusia.

 

C. Simpulan

Tuhan Yang Maha Tunggal, sebagai satu-satunya pencipta kejadian, termasuk menciptakan kejadian berbagai bahasa dan agama, adalah tetap menjadi satu satunya Tuhan yang dipercayai dan disembah oleh semua umat beragama, meskipun masing masing menyebut dengan nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa atau sebutan yang dianut oleh masing-masing agama.

Perbedaan ajaran agama sebaiknya disikapi secara positif, sebagai pentahapan tingkat kesadaran yang berjenjang. Selayaknya yang berada di tingkat kesadaran di atas dapat memahami yang masih berada di tingkat kesadaran di bawahnya. Sebaliknya, tidaklah menjadi masalah apabila yang masih berada di tingkat bawah tidak dapat memahami yang di atasnya, karena hal ini adalah wajar. Sehingga apabila ada agama baru yang mengajarkan tingkat kesadaran berkeTuhanan yang masih rendah dengan menganggap Tuhannya yang paling benar dan agamanya yang paling baik, tidak perlu disikapi dengan cara yang sama oleh umat agama yang lebih tua. Mudah mudahan dengan melalui proses reinkarnasi, tahap demi tahap dapat mencapai tingkat kesadaran berkeTuhanan yang tertinggi, yaitu bertunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Berhubungan antara manusia dengan Tuhan-Nya memiliki banyak cara dan panggilan Tuhan di setiap agama-agama di muka bumi ini. Sehingga apapun agamanya dan bagaimanapun agamanya untuk tidak melupakan kewajiban untuk kepada Tuhan-Nya masing-masing agar saling terus berhubungan dengan Tuhan-Nya.

   


                                        DAFTAR PUSTAKA

Elly M. Setiadi, dkk. (2017). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media.

Kau, Murhima, and Misnawati Idris. (2018). Deskripsi Penyesuaian Sosial Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kota Gorontalo.Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal 4(3):26970.

Waluyo, Dkk. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Naional.

http://ntykawaii-ntykawaii.blogspot.com/2012/04/hubungan-manusia-dengan-tuhan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPAYA MENCEGAH KORUPSI

KEARIFAN LOKAL

KEPEMIMPINAN DALAM TIM