MENGGALI POTENSI DIRI (THE BIG 5 PERSONALITY) UNTUK MERAIH PRESTASI
MENGGALI POTENSI DIRI (THE BIG 5 PERSONALITY) UNTUK MERAIH PRESTASI
Gambar 1 - Lima Ciri Kepribadian Utama (the Big Five Persoality)
A. Makna Potensi Diri
Setiap individu dilahirkan dengan potensi unik yang dapat digali dan dikembangkan. Potensi diri merujuk pada kemampuan, bakat, kreativitas, dan sifat unggul lainnya yang dimiliki oleh setiap orang. Menggali potensi diri adalah proses mengidentifikasi dan memanfaatkan bakat dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kualitas hidup. Potensi diri merupakan kualitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mendukung orang tersebut dalam memenuhi tujuan yang dicita-citakan. Potensi diri bukan hanya termasuk karakter, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, tetapi juga kesehatan, kemampuan fisik, motivasi, kemampuan berkomunikasi, dan masih banyak lagi.
Dalam proses meningkatkan kualitas dirinya, manusia perlu terlebih dulu mengenali potensi yang ada untuk kemudian ditumbuhkembangkan menjadi kualitas yang signifikan dalam dirinya. Menggali potensi diri adalah proses mengidentifikasi dan memanfaatkan bakat dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kualitas hidup
Kata potensi berasal dari serapan bahasa Inggris, yaitu potencial. Artinya ada dua kata, yaitu, (1) kesanggupan; tenaga (2) dan kekuatan; kemungkinan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya.
Potensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang masih terpendam dan menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam diri sesuatu tersebut (Wiyono, 2006:37). Sedangkan Sri Habsari (2005:2) menjelaskan, potensi adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik. Sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, perilaku dan psikologis yang dimiliki.
Dapat disimpulkan bahwa potensi diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang masih terpendam dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan jika didukung dengan latihan dan sarana yang memadai.
B. Jenis-jenis Potensi Diri
Menurut Hery Wibowo (2007:1) minimal ada empat kategori potensi yang terdapat dalam diri manusia sejak lahir yaitu, potensi otak (berpikir), emosi, fisik, dan sosial. Semua potensi ini dapat dikembangkan pada tingkat yang tidak terbatas. Manusia diciptakan dengan potensi diri terbaik dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
1. Potensi Berpikir
Manusia memiliki potensi berfikir. Seringkali Allah menyuruh manusia untuk berfikir, “Maka berfikirlah!” Logikanya orang hanya disuruh berfikir karena ia memiliki potensi berfikir. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk belajar informasi-informasi baru, menghubungkan berbagai informasi, serta menghasilkan pemikiran baru.
2. Potensi Emosi
Potensi yang lain adalah potensi dalam bidang afeksi/emosi. Setiap manusia memilki potensi cita rasa, yang dengannya manusia dapat memahami orang lain, memahami suara alam, ingin mencintai dan dicintai, memperhatikan dan diperhatikan, menghargai dan dihargai, cenderung kepada keindahan.
3. Potensi Fisik
Adakalanya manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk membuat gerakan fisik yang efektif dan efisien serta memiliki kekuatan fisik yang tangguh.Orang yang berbakat dalam bidang fisik mampu mempelajari olah raga dengan cepat dan selalu menunjukkan permainan yang baik.
4. Potensi Sosial
Pemilik potensi sosial yang besar memiliki kapasitas menyesuaikan diri dan mempengaruhi orang lain. Kemampuan menyesuaikan diri dan mempengaruhi orang lain didasari kemampuan belajarnya, baik dalam dataran pengetahuan maupun keterampilan.
C. Memahami Potensi Diri
Ciri-ciri orang yang memahami potensi dirinya bisa diukur atau dilihat dalam sikap dan perilakunya sehari-hari dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Menurut La Rose (dalam Sugiharso dkk, 2009:126-127) menyebutkan bahwa orang yang berpotensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Suka belajar dan mau melihat kekurangan dirinya.
2) Memilki sikap yang luwes .
3) Berani melakukan perubahan secara total untuk perbaikan.
4) Tidak mau menyalahkan orang lain maupun keadaan.
5) Memilki sikap yang tulus bukan kelicikan.
6) Memiliki rasa tanggung jawab.
7) Menerima kritik saran dari luar.
8) Berjiwa optimis dan tidak mudah putus asa.
D. Mengembangkan Potensi Diri
Sebelum seorang melakukan pengembangan diri dalam rangka menggunakan dan mengoptimalisasi seluruh kemampuannya untuk mencapai kinerja yang unggul, ada beberapa cara untuk mengetahui, menilai atau mengukur dengan akurat berbagi kelebihan dan kelemahannya.
1. Introspeksi Diri (Pengukuran Individual)
Dalam cara ini, individu meluangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukannya, apa yang telah ia capai dan apa yang ia miliki sebagai suatu kelebihan yang dapat mendukung dan apa yang ia miliki sebagai suatu kekurangan yang menghambat tercapainya prestasi tinggi. Cara ini efektif bila individu bersikap jujur, terbuka pada dirinya sendiri, mau dengan sungguh-sungguh memperhatikan kata hati.
2. Feedback dari Orang Lain
Dalam cara ini, seseorang meminta masukan berupa informasi atau data penilaian tentang dirinya dari orang lain. Masukan berupa umpan balik (feedback) ini meliputi segala sesuatu tentang sikap dan perilaku seseorang yang tampak, dipersepsi oleh orang lain yang bertemu, berinteraksi dengannya. Cara ini bertujuan untuk membantu seseorang menelaah dan memperbaiki.
3. Tes Psikologi
Tes Psikologi yang mengukur potensi psikologis individu dapat memberi gambaran kekuatan dan kelemahan individu pada berbagai aspek psikologis seperti: kecerdasan/kemampuan intelektual (kemampuan analisa, logika berpikir, berpikir kreatif, berpikir numerikal), potensi kerja (vitalitas, sumber energi kerja, motivasi, ketahanan terhadap stress kerja), kemampuan sosiabilitas (stabilitas emosi, kepekaan perasaan, kemampuan membina relasi sosial) dan potensi kepemimpinan tingkah laku.
E. Mengukur Potensi Diri (the Big Five Persoality)
Menurut teori Goldberg (1981) dalam mengukur potensi diri personality dikategorikan dalam 5 hal besar, yaitu Neoriticism, Ekstraversion, Opennes, Agreeableness dan Conscientiousness yang dikenal dengan istilah the Big Five Personality (dalam Klang, 2012).
1. Openness
Openness adalah dimensi kepribadian yang mencerminkan keterbukaan seseorang terhadap sesuatu dan pengalaman baru. Individu yang memiliki skor tinggi dalam tipe kepribadian ini biasanya memiliki keingintahuan yang tinggi, senang mempelajari hal baru, kreatif, imajinatif, dan suka berpetualang. Sebaliknya, orang yang skornya rendah dalam tipe kepribadian openness, biasanya adalah sosok yang lebih tradisional, tidak suka perubahan, kurang minat untuk mencoba hal-hal baru, dan tidak terlalu imajinatif.
2. Conscientiousness
Conscientiousness merupakan dimensi kepribadian yang berhubungan dengan kehati-hatian seseorang dalam bertindak. Umumnya, orang yang mendapat skor tinggi dalam dimensi kepribadian ini memiliki sifat yang optimis, stabil secara emosional, terorganisir, berorientasi pada detail, dan baik dalam perencanaan. Sebaliknya, seseorang yang rendah skornya dalam dimensi kepribadian conscientiousness cenderung memiliki sifat yang lebih impulsif, kurang terstruktur, dan sering mengalami kesulitan untuk fokus pada tujuannya.
3. Extraversion
Extraversion adalah dimensi kepribadian yang mencerminkan cara seseorang berinteraksi secara sosial. Jika skor extraversion-nya tinggi, orang tersebut kemungkinan suka keramaian, mudah berteman, dan suka menjadi pusat perhatian. Intinya, mereka akan merasa berenergi saat berada dalam situasi sosial. Namun, jika skor extraversion rendah, biasanya orang tersebut adalah individu yang lebih pendiam, tertutup, suka menghabiskan waktu seorang diri, tidak suka basa-basi, tidak suka keramaian, dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
4. Agreeableness
Agreeableness merupakan dimensi kepribadian yang menggambarkan cara seseorang memperlakukan hubungannya dengan orang lain. Dimensi kepribadian ini erat kaitannya dengan kepercayaan, altruisme, kasih sayang, dan perilaku prososial lainnya.
Inilah mengapa seseorang dengan skor agreeableness yang tinggi kebanyakan adalah orang yang penuh empati, bisa dipercaya, peduli dengan kesejahteraan orang lain, dan siap membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Sebaliknya, skor agreeableness yang rendah umumnya menunjukkan karakteristik orang yang lebih egois, manipulatif, keras kepala, sulit untuk memaafkan orang lain, tidak mudah berempati, dan sering menyimpan dendam.
5. Neuroticism
Neuroticism adalah dimensi kepribadian yang mengacu pada stabilitas emosi seseorang. Dimensi ini ditandai dengan kesedihan, kemurungan, dan ketidakstabilan emosi. Individu yang memiliki skor tinggi dalam neuroticism biasanya lebih mudah stres dan cemas, merasa tidak aman, dan mudah tersinggung. Sebaliknya, orang dengan skor neuroticism yang rendah umumnya lebih optimis, percaya diri, stabil secara emosional, mampu mengelola stres dengan baik, dan bisa bekerja di bawah tekanan.
Mengetahui kepribadian dengan mengikuti tes the big five personality dapat membantu Anda lebih mengenal diri sendiri, termasuk potensi dan keunggulan yang ada di dalam diri. Selain itu, lewat teori ini pula dapat memahami sisi lemah Anda yang nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki diri. Agar hasil yang didapatkan akurat, Anda disarankan mengikuti tes the big five personality yang dilakukan di lembaga psikologi atau di bawah pengawasan ahli psikologi.
F. Langkah-langkah untuk Menggali Potensi Diri
Dalam dunia yang semakin kompleks ini, kita sering merasa bingung tentang arah hidup kita, terutama dalam hal karier dan prestasi kita. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan yang kita impikan? Apa yang membuat seseorang sukses dalam kariernya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya bergantung pada keterampilan atau pengetahuan teknis, tetapi juga pada potensi yang dimiliki setiap individu. Potensi ini, jika ditemukan dan dikembangkan dengan tepat, dapat menjadi kunci kesuksesan dalam dunia yang semakin kompetitif.
Untuk mencapai prestasi dalam karier, potensi diri harus dimaksimalkan. Potensi diri berfungsi sebagai dasar bagi individu untuk berkembang dalam bidang yang mereka pilih. Pengembangan potensi diri melibatkan keterampilan seperti kepemimpinan, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, dan pengelolaan emosi, yang semuanya sangat penting dalam mencapai kesuksesan karier. Tanpa pengembangan potensi diri, seseorang mungkin merasa terhambat meskipun berada di jalur karier yang menjanjikan. Untuk itu, perlu diketahui apa saja langkah-langkah untuk menggali potensi diri agar berhasil dalam meniti karier.
1. Self-Assessment (Penilaian Diri)
Lakukan penilaian diri dengan jujur. Identifikasi bakat dan kelebihan yang Anda miliki, tetapi juga akui kelemahan dan area di mana Anda ingin berkembang. Pertanyaan seperti “Apa yang saya sukai?”, “Apa yang saya lakukan dengan baik?”, dan “Apa yang ingin saya capai dalam hidup?” dapat membantu dalam penilaian diri ini.
2. Cari Tantangan Baru
Keluar dari zona nyaman dan coba hal-hal baru. Mungkin Anda akan menemukan bakat atau minat yang selama ini tidak disadari. Cobalah berbagai aktivitas seperti olahraga, seni, musik, atau kegiatan lainnya yang menarik minat Anda.
3. Belajar dan Mengembangkan Diri
Tetaplah selalu belajar dan mengembangkan diri. Ikuti kursus, baca buku, atau cari mentor yang dapat membantu Anda memperluas pengetahuan dan keterampilan Anda.
4. Terima Kegagalan sebagai Bagian dari Proses
Tidak semua yang Anda coba akan berjalan lancar. Terimalah kegagalan sebagai bagian alami dari proses pengembangan diri. Jangan biarkan kegagalan menghalangi semangat Anda untuk terus mencoba dan belajar.
5. Bertahan dan Berkomitmen
Menggali potensi diri adalah proses yang memerlukan waktu dan ketekunan. Tetaplah berkomitmen untuk mencari dan mengembangkan potensi Anda dengan penuh semangat.
6. Berkolaborasi dengan Orang Lain
Terkadang, kita tidak dapat melihat potensi diri kita sendiri dengan jelas. Berkolaborasi dengan orang lain, seperti teman, keluarga, atau rekan kerja, dapat memberikan wawasan dan masukan berharga tentang potensi Anda yang belum tergali.
G. Menggali Potensi Diri di Era Digital
Era teknologi digital membawa dampak yang cukup besar di berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali pada perkembangan dunia karir dan profesi. Dengan kemajuan teknologi yang sedemikian pesat, banyak lapangan pekerjaan yang dapat tergantikan oleh teknologi dan mesin. Namun demikian, kemajuan teknologi ini juga memunculkan berbagai lapangan pekerjaan baru, salah satunya muncul beragam pekerjaan atau profesi yang dapat dilakukan dengan menggunakan media sosial.
Berbagai pekerjaan tersebut meliputi youtuber, influencer, selebgram, atau content writer, digital marketer, ahli coding, pembuat game, dll. Beberapa pekerjaan ini memiliki daya tarik tersendiri bahkan cenderung menyenangkan untuk digeluti oleh Generasi Z (Gen Z)
Menggali potensi diri di era digital penting untuk tetap relevan, produktif, dan sukses. Teknologi dapat membantu dalam proses menggali potensi diri, seperti melalui kursus online, webinar, dan media sosial.
Manfaat menggali potensi diri di era digital.
1. Memahami perubahan cepat di dunia kerja
2. Merencanakan karier dengan lebih baik.
3. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di era digital.
4. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan, empati, dan kerja sama tim.
5. Mendapatkan rasa pencapaian dan kepuasan pribadi
Cara menggali potensi diri di era digital.
1. Manfaatkan platform pembelajaran online seperti Coursera, edX, atau Udemy.
2. Manfaatkan media sosial profesional seperti LinkedIn untuk membangun jaringan.
3. Dengarkan konten edukatif seperti podcast dan audiobook
4. Gunakan aplikasi meditasi dan mindfulness untuk melatih fokus dan mengelola stres.
5. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
6. Mengikuti webinar atau kursus online berbayar.
7. Berani berkarya dan terbuka pada kritik.
8. Bergabung dengan komunitas.
9. Berlatih dan mengasah keterampilan.
10. Mencoba hal baru.
DAFTAR PUSTAKA
Habsari, Sri. (2005). Bimbingan & Konseling SMA kelas XI. Jakarta: Grasindo.
Klang, A. (2012). The relationship between personality and job performance in sales. Thesis. Stockholm University, Department of Psychology
Sugiharso, Sugiyono, Gunawan & Karsono.(2009). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Wibowo, Hery. (2007). Fortune Favor the Ready. Bandung: OASE Mata Air Makna.
Wiyono, Slamet. (2006). Managemen Potensi Diri. Jakarta: PT Grasindo.

Komentar
Posting Komentar