KEPEMIMPINAN DALAM TIM

 KEPEMIMPINAN DALAM TIM

Gambar 1

A.   Pengertian Kepemimpinan

Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke muka bumi ini sebagai khalifah (pemimpin). Oleh sebab itu, manusia tidak terlepas dari perannya sebagai pemimpin yang merupakan peran sentral dalam setiap upaya pembinaan. Hal ini telah banyak dibuktikan dan dapat dilihat dalam gerak langkah setiap organisasi. Peran kepemimpinan begitu menentukan bahkan seringkali menjadi ukuran dalam mencari sebab-sebab jatuh bangunnya suatu organisasi. Dalam menyoroti pengertian kepemimpinan, sebenarnya dimensi kepemimpinan memiliki aspek-aspek yang sangat luas, serta merupakan proses yang melibatkan berbagai komponen di dalamnya dan saling memengaruhi.

Bila kita menyoroti kepemimpinan dalam tim, berarti kepemimpinan dalam tim (team leadership) adalah kemampuan untuk mengarahkan, memotivasi, dan mendukung sekelompok orang dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin tim tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang positif, kolaboratif, dan mendorong pertumbuhan individu dalam tim.

Dari sisi bahasa, kepemimpinan adalah leadership yang berasal dari kata leadr. Kata itu muncul pada tahun 1300-an sedangkan kata leadership muncul kemudian yaitu sekitar tahun 1700-an. Kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinanya, dengan menonjolkan latar belakang historis, timbulnya kepemimpinan, sifat-sifat utama pemimpin, tugas pokok pemimpin, dan etika profesi kepemimpinan. Menurut Henry Pratt dalam Kartini Kartono (2016:38), pemimpin adalah seseorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosisal dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisasi atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi dan membimbing/memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan penerimaan secara sukarela dari pengikutnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V (2023), kepemimpinan adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Secara harfiah, kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang memiliki arti mengarahkan, membina, mengatur, menuntun, menunjukkan, atau memengaruhi.

Weschler dan Massarik (1961) mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh antarpribadi yang dijalankan dalam situasi tertentu dan diarahkan melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. William G. Scott (1962) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses memengaruhi kegiatan yang diselenggarakan dalam kelompok, dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut pendapat Terry (2015:153), kepemimpinan adalah hubungan yang ada di dalam diri seseorang atau pemimpin, yang dapat memengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugasnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah kekuatan atau kemampuan yang ada di dalam diri seseorang. Sikap kepemimpinan tersebut digunakan ketika memimpin. Salah satu pengaruh yang ditimbulkan dari sikap kepemimpinan tersebut adalah dapat memengaruhi seseorang. Pengaruh yang diberikan ini dimaksudkan di dalam sebuah pekerjaan atau organisasi. Hal itu dikarenakan umumnya sikap kepemimpinan dibutuhkan seseorang dalam memimpin sebuah pekerjaan atau organisasi.

Tujuan dari sikap kepemimpinan tersebut adalah untuk mencapai sebuah target atau goal. Baik di bidang pekerjaan atau sebuah organisasi, selalu ada target yang ingin di capai. Target-target yang sudah ditentukan tersebut dapat terlaksana karena adanya sikap kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sikap yang ada di dalam seorang pemimpin. Sedangkan pemimpin adalah seseorang yang sudah diberi kepercayaan. Kepercayaan tersebut digunakan untuk menjadi sebuah kepala atau ketua di dalam perusahaan atau organisasi.

Lebih dari sekadar memberikan instruksi, seorang pemimpin mampu menggerakkan timnya dengan visi, nilai-nilai, dan arah yang jelas. Pemimpin yang baik juga mampu mendengarkan, memotivasi, dan memberikan dukungan kepada anggota timnya.

Sementara itu, dalam hadis Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, Nabi Muhammad saw bersabda, “Pemimpin adalah bayangan Allah Swt. di muka bumi. Kepadanya berlindung orang-orang yang teraniaya dari hamba-hamba Allah, jika ia berlaku adil maka baginya ganjaran, dan bagi rakyat hendaknya bersyukur. Sebaliknya apabila ia curang (zalim) maka niscaya dosalah baginya dan rakyatnya hendaknya bersabar. Apabila para pemimpin curang maka langit tidak akan menurunkan berkahnya. Apabila zina merajalela, maka kefakiran dan kemiskinan pun akan merajalela.”

Berdasarkan hadits di atas, dapat mengisyaratkan bahwa pemimpin adalah perwakilan Allah di muka bumi ini. Pemimpin harus adil, tidak zalim, tidak curang kepada rakyatnya, dan mampu mengayomi rakyatnya dengan baik semata-mata karena ketakwaannya kepada Allah Swt.

Jadi, selain mampu menggerakkan timnya dengan visi, nilai-nilai, dan arah yang jelas, mampu mendengarkan, memotivasi, dan memberikan dukungan kepada anggota timnya, seorang pemimpin juga harus beriman dan takut kepada Allah.

 

B.   Keterampilan Dasar dalam Kepemimpinan Tim

Kepemimpinan merupakan salah satu dimensi kompetensi yang sangat menentukan terhadap kinerja atau keberhasilan organisasi. Esensi pokok kepemimpinan adalah cara untuk memengaruhi orang lain agar menjadi efektif tentu setiap orang bisa berbeda dalam melakukan. Kepemimpinan merupakan seni, karena pendekatan setiap orang dalam memimpin orang dapat berbeda tergantung karakteristik pemimpin, karakteristik tugas maupun karakteristik orang yang dipimpinnya.

Gambar 2


Untuk menjadi seorang pemimpin tim yang efektif, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki, antara lain keterampilan komunikasi, kemampuan problem-solving, dan pengambilan keputusan yang tepat. Keterampilan ini akan membantu seorang pemimpin memastikan bahwa tim tetap berada di jalur yang benar.

1.    Keterampilan Komunikasi

Pemimpin perlu dapat berkomunikasi dengan jelas, efektif, dan persuasif untuk menyampaikan visi, misi, dan tujuan tim. Komunikasi yang baik juga membantu membangun hubungan yang kuat dengan anggota tim dan stakeholder. 

Oleh karena itu, seorang pemimpin tim hendaknya: (1) berlatih mendengarkan secara aktif; (2) gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami; (3) manfaatkan teknologi dan komunikasi digital; (4) berikan umpan balik yang konstruktif; (4) mengikuti pelatihan atau kursus untuk meningkatkan keterampilan berbicara di depan publik. 

2.    Kemampuan Problem-Solving

Pemimpin yang efektif harus dapat mengidentifikasi masalah, menganalisis akar masalah, dan mengembangkan solusi yang efektif. Kemampuan problem-solving membantu tim mengatasi tantangan dan mencapai tujuan dengan lebih efisien. 

Oleh karena itu, seorang pemimpin tim hendaknya: (1) mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis; (2) menghasilkan berbagai alternatif solusi; (3) melatih kemampuan bekerja sama dan berkolaborasi dengan tim; (4) menggunakan pendekatan yang sistematis dan logis dalam memecahkan masalah. 

3.    Pengambilan Keputusan yang Tepat

Pemimpin perlu membuat keputusan yang tepat dan tepat waktu untuk memastikan tim tetap berada di jalur yang benar. Keputusan yang tepat harus didasarkan pada analisis data, evaluasi risiko, dan pertimbangan berbagai faktor. 

Oleh karena itu, seorang pemimpin tim hendaknya: (1) mengembangkan kemampuan berpikir strategis; (2) mengumpulkan informasi yang relevan dan valid; (3) menganalisis berbagai alternatif solusi; (4) mencari masukan dari anggota tim dan stakeholder; dan (4) mengambil keputusan berdasarkan data dan analisis. 

Dengan memiliki keterampilan komunikasi yang baik, kemampuan problem-solving yang kuat, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat seorang pemimpin tim, dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif, meningkatkan produktivitas, dan membantu tim mencapai tujuan dengan sukses. 

 

C.   Aspek Penting Kepemimpinan

Menurut Edy Sutrisno (2009) dijelaskan bahwa kepemimpinan memiliki tiga aspek penting, di antaranya adalah sebagai berikut.

1.    Seorang Pemimpin Harus Melibatkan Orang Lain.

Orang lain yang dimaksud di sini adalah sebagai pengikut, bawahan, atau anggota-anggota kelompok. Kesediaan dari anggota kelompok dalam menerima sebuah arahan dari pemimpin tentu akan membantu. Melalui hal tersebut, akan membantu menegaskan status pemimpin. Selain itu, akan memungkinkan terjadinya sebuah proses kepemimpinan. Tanpa adanya bawahan atau anggota, semua sikap dan sifat dari kepemimpinan seorang pemimpin menjadi tidak relevan.

2.    Kepemimpinan Mencakup Distribusi Kekuasaan

Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan para anggota kelompok. Maksud dari aspek ini adalah anggota kelompok tetap memiliki kuasa di dalam sebuah organisasi. Mereka dapat membentuk kegiatan kelompok melalui berbagai cara. Akan tetapi, kekuasaan dari pemimpin organisasi cenderung akan lebih tinggi, jika dibandingkan dengan anggota kelompoknya.

3.    Kepemimpinan sebagai Kemampuan dalam Menggunakan Kekuasaan

Kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin umumnya akan digunakan dalam memengaruhi perilaku anggota kelompoknya. Hal itu dilakukan melalui sejumlah cara. Pada dasarnya, para pemimpin akan memengaruhi para anggota kelompoknya. Supaya anggota kelompok dapat melakukan pengorbanan secara pribadi. Pengorbanan tersebut digunakan demi tujuan organisasi. Oleh karena itu, para pemimpin diharapkan memiliki kewajiban khusus dalam mempertimbangkan etika, saat akan mengambil sebuah keputusan.

 

D.   Tipe-tipe Kepemimpinan

Tipe atau gaya kepemimpinan adalah cara pemimpin menghadapi dan melayani staf atau bawahan yang biasanya berbeda pada setiap individu dan dapat berubah-ubah. Nilai seorang pemimpin (leader) bukanlah ditentukan oleh hasil yang dicapai secara pribadi, melainkan oleh kemampuannya mencapai hasil dari pihak yang berada di bawah pengawasannya serta yang berada di bawah pengawasannya serta pengaruh yang dipancarkannya kepada orang-orang atau pihak-pihak yang berhubungan dengan sang pimpinan.

Pada kenyataaannya bahwa seorang pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya akan terjadi adanya suatu perbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana yang dinyatankan oleh Terry (2015:132) bahwa tipe-tipe kepemimpinan terbagi menjadi 6 (enam) bagian.

1.    Tipe Kepemimpinan Pribadi (Personal Leadership); Pada kepemimpinan ini, segala tindakan yang dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk ini dilakukan secara lisan atau langsung, perintah dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.

2.  Tipe Kepemimpinan non-Pribadi (non-Personal Leadership); Pada kepemimpinan ini segala kebijaksanaan yang dilaksanakan oleh bawahan atau media nonpribadi baik rencana atau perintah dan juga pengawasan.

3.    Tipe Kepemimpinan Otoriter (Authoritorian Leadership); Pada kepemimpinan ini pemimpin otoriter biasanya bekerja dengan keras, bersungguh-sungguh, sangat teliti dan tertib. Ia akan bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat, tegas dan instruksinya harus ditaati.

4.    Tipe Kepemimpinan Demokratis (Democratis Leadership); Pada kepemimpinan ini pemimpin yang berfikir demokratis akan menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok dan akan bersama-sama dengan kelompoknya untuk berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama, ini dilakukan agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka dari itu setiap anggota harus ikut serta dalam setiap kegiatan, dalam perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota akan dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan atau organisasi.

5. Tipe Kepemimpinan Paternalistic; Pada kepemimpianan ini, kepemimpinan didirikan oleh suatu pengaruh yang bersumber dari sifat kebapakan yang dalam hubungannya pemimpin dan tujuannya adalah untuk melindungi atau untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anak-anaknya.

Istilah paternalisme berasal dari bahasa Latin yang berarti "ayah". Pemimpinnya paling sering adalah laki-laki. Gaya kepemimpinan ini sering ditemukan di Rusia, Afrika, dan Masyarakat Asia Pasifik.

6. Tipe Kepemimpinan menurut Bakat (Indogenious Leadership): Pada kepemimpinan ini biasanya timbul dari kelompok yang orang-orangnya bersifat informal di mana memungkinkan mereka dapat berlatih dengan adanya sistem kompetisi, sehingga bisanya menimbulkan daya saing dari kelompok bersangkutan dan akan muncul pemimpin yang mempunyai bakat di antara ada dalam kelompok tersebut.

 

E.    Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepemimpinan

Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi kepemimpinan, menurut pendapat Mutamimah (2011:3) yang menjelaskan bahwa seorang pemimpin akan dapat mentransformasikan para bawahannya melalui 4 (empat) komponen.

1.    Charismatic Leadership, adalah pemimpin yang mempunyai power dan pengaruh. Karyawan dapat dibangkitkan dan mempunyai tingkat kepercayaan dan keyakinan. diri Pemimpin ini dapat membangkitkan dan menyenangkan bagi karyawannya dengan meyakinkan bahwa mereka dapat dan mampu dalam menyelesaikan sesuatu yang lebih besar dengan usaha yang lebih ekstra.

2.    Inspirational Motivation, adalah pemimpin yang selalu memotivasi dan merangsang bawahannya untuk menyiapkan pekerjaan yang dalam ini berarti dan menantang untuk lebih antusiasme, optimisme yang ditunjuk menjadi pemimpin akan selalu mengkomunikasikan visi, misi dan harapan-harapan dengan tujuan agar bawahan mempunyai komitmen yang tinggi untuk mencapai tujuan.

3.    Intellectual Stimulation, adalah pemimpin yang selalu menstimulasi bawahannya secara intelektual, sehingga para bawahan menjadi inovatif dan kreatif dalam hal menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang baru. Selain itu pemimpin mengajarkan dengan cara melihat kesulitan sebagai masalah yang harus segera diselesaikan dan memberikan petunjuk penyelesaian masalah secara lebih rasional.

4.    Individualized Consideration, adalah pemimpin yang memberikan perhatian kepada karyawan secara individual, dengan cara memperhatikan kebutuhan karyawan untuk berprestasi, dengan memberikan gaji yang baik, dengan selalu memberi nasehat kepada karyawan sehingga karyawan perusahaan dapat tumbuh dan berkembang.

Tiap organisasi yang memerlukan kerjasama antarmanusia dan menyadari bahwa masalah manusia yang utama adalah masalah kepemimpinan. Kita melihat perkembangan dari kepemimpinan pra ilmiah kepada kepemimpinan yang ilmiah. Dalam tingkatan ilmiah kepemimpinan itu disandarkan kepada pengalaman intuisi, dan kecakapan praktis.

Kepemimpinan itu dipandang sebagai pembawaan seseorang sebagai anugerah Tuhan. Karena itu dicarilah orang yang mempunyai sifat-sifat istimewa yang dipandang sebagai syarat suksesnya seorang pemimpin. Dalam tingkatan ilmiah kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi, bukan sebagai kedudukan atau pembawaan pribadi seseorang. Maka diadakanlah suatu analisis tentan gunsurunsur dan fungsi yang dapat menjelaskan kepada kita, syaratsyarat apa yang diperlukan agar pemimpin dapat bekerja secara efektif dalam situasi yang berbeda-beda. Pandangan baru ini membawa pembahasan besar. Cara bekerja dan sikap seorang pemimpin yang dipelajari.

Konsepsi baru tentang kepemimpinan melahirkan peranan baru yang harus dimainkan oleh seorang pemimpin. Titik berat beralihkan dari pemimpin sebagai orang yang membuat rencana, berpikir dan mengambil tanggung jawab untuk kelompok serta memberikan arah kepada orang-orang lain. Kepada anggapan, bahwa pemimpin itu pada tingkatan pertama adalah pelatih dan koordinator bagi kelompoknya. Fungsi yang utama adalah membantu kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja secara lebih efisien dalam peranannya.

Sebagai pelatih seorang pemimpin dapat memberikan bantuan-bantuan yang khas, yaitu: (1) pemimpin membantu akan terciptanya suatu iklim sosial yang baik; (2) pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur-prosedur kerja; (3) pemimpim membantu kelompok untuk mengorganisasi diri; (4) pemimpin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan sama dengan kelompok; (5) pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman.

 

F.    Indikator Kepemimpinan

Menurut Rivai (2012:14) beliau mengemukakan bahwa kinerja kepemimpinan adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang pemimpin secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugasnya dan dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya standar hasil kerja, target atau sasaran kerja ataupun kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu atau telah disepakati bersama. Kinerja kepemimpinan merupakan hal penting dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Dalam hal meningkatkan kinerja karyawan perusahaan, pemimpin harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja.

Gambar 3

Indikator kepemimpinan adalah kriteria atau ukuran yang digunakan untuk menilai efektivitas dan kualitas kepemimpinan seseorang. Indikator ini dapat mencakup berbagai aspek, seperti: kemampuan memotivasi, komunikasi, pengambilan keputusan, kemampuan membina hubungan, dan integritas. 

Berikut adalah beberapa indikator kepemimpinan yang umum.

1.    Kemampuan Memotivasi; Pemimpin yang efektif dapat memotivasi bawahan atau anggota timnya untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan memotivasi dapat dilihat dari bagaimana pemimpin dapat memberikan inspirasi, semangat, dan dukungan kepada anggota timnya.

2.    Keterampilan Komunikasi; Komunikasi yang efektif adalah kunci untuk membangun hubungan yang baik antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin yang baik dapat menyampaikan pesan dengan jelas, mendengarkan pendapat orang lain, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.

3.    Kemampuan Mengambil Keputusan; Pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tepat dan tepat waktu berdasarkan informasi yang tersedia. Kemampuan ini mencakup analisis situasi, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil tindakan yang sesuai.

4.    Kemampuan Membina Hubungan; Pemimpin yang baik dapat membangun hubungan yang positif dan saling percaya dengan bawahan atau anggota timnya. Hubungan yang baik akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan produktif.

5.    Integritas; Integritas adalah prinsip moral yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Integritas dapat dilihat dari bagaimana pemimpin bertindak dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.

6.    Kemampuan Delegasi; Pemimpin yang efektif dapat mendelegasikan tugas dan wewenang kepada orang lain. Delegasi yang tepat akan membantu pemimpin membebaskan diri dari tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh orang lain dan fokus pada tugas-tugas yang lebih strategis.

7.    Kemampuan Beradaptasi; Pemimpin harus mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan situasi yang ada. Kemampuan ini mencakup fleksibilitas, inovasi, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan baru.

Selain indikator di atas, masih banyak indikator kepemimpinan lainnya yang dapat digunakan untuk menilai efektivitas dan kualitas kepemimpinan seseorang. Pemimpin yang efektif biasanya memiliki kombinasi dari berbagai indikator ini dan mampu menggunakannya secara efektif dalam situasi yang berbeda. 

 

G.   Pengaruh Kepemimpinan terhadap Produktivitas Kerja Tim

Produktivitas kerja adalah ukuran perbandingan kualitas dan kuantitas dari seorang tenaga kerja dalam satuan waktu untuk mencapai hasil atau prestasi kerja secara efektif dan efisien dengan sumber daya yang digunakan. Produktivitas bukanlah produksi, karna keduanya tidak selalu sama. Produksi yang menjadi perhatian adalah peningkatan output sedangkan penggunaan input kurang mendapatkan perhatian.

Setiap perusahaan selalu berkeinginan agar tenaga kerja yang dimiliki mampu meningkatkan produktivitas yang tinggi. Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang behubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor lain, seperti tingkat pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motovasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan kerja, teknologi, sarana produksi, manajemen, dan prestasi.

Untuk itu, di dalam meningkatkan suatu produktivitas kerja para pegawainya, baik lembaga maupun organisasi dipengaruhi oleh seorang pemimpin, di mana pemimpin sangat berperan aktif dalam meningkatkan produktivitas. Pada tingkat nasional, produktivitas yang meningkat melengkapi posisi untuk meningkatkan standar hidup atau paling tidak mempertahankannya sambil melakukan upaya peningkatan kualitas hidup.

Produktivitas kerja banyak dipengaruhi sikap pimpinan dalam kepemimpinannya. Kepemimpinan partisipasi memberikan produktifitas kerja bagi karyawan karena karyawan ikut aktif dalam memberikan pendapatnya untuk menentukan kebijaksanaan perusahaan. Kepemimpinan otoriter mengakibatkan produktifitas kerja karyawan rendah.

Efektivitas dalam melaksanakan kepemimpinan harus dimulai dari diri sendiri. Tidak mungkin seorang pemimpin yang gagal membuat dirinya efektif akan berhasil dalam mengefektifkan orang lain ataupun pekerjaannya. Berbicara masalah efektivitas pribadi mau tidak mau seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dalam menentukan identifikasi terhadap potensi-potensi yang dimilikinya. Kemampuan akan melakukan identifikasi ini akan memberikan bekal yang cukup kuat bagi seorang pemimpin untuk mengembangkan dirinya. Sehingga katika peran kepemimpinan yang sementara ia jalani tidak hanya tergantung dari posisinya saja tetapi lebih banyak karena pengaruh-pengaruh yang berasal dari kapasitas pribadinya. Pengaruh seperti inilah yang akan memberikan kekuatan bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya.

 

H.   Faktor-faktor yang Memengaruhi Produktivitas Kerja

Setiap perusahaan selalu berkeinginan agar tenaga kerja di dalam perusahaan mampu meningkatkan produktivitas yang tinggi. Banyaknya faktor yang memengaruhi produktivitas kerja, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijaksanaan pemerintah secara keseluruhan.

Produktivitas kerja sebagai salah satu orientasi manajemen dewasa ini, keberadaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Sedarmayanti (2017:343) faktor-faktor yang memerngaruhi produktivitas kerja adalah pendidikan dan pelatihan, gizi dan kesehatan, pengahsilan dan jaminan sosial, serta kesempatan kerja.

1.    Pendidikan dan Latihan; Menambah pengetahuan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan lebih cepat.

2.    Gizi dan Kesehatan; Gizi dan kesehatan yang baik akan memberi kemampuan karyawan bekerja dengan baik.

3.  Penghasilan dan Jaminan Sosial; Penghasilan dan jaminan sosial dapat mendorong bekerja lebih produktif jika kebutuhan finansialnya tercukupi.

4.    Kesempatan Kerja; Meliputi 3 (tiga) hal yaitu berkarya, menikmati pekerjaan sesuai dengan pendidikan dan keterampilan, dan kesempatan mengembangkan diri.

Adapun Tiffin dan Cormick (dalam Siagian, 2013), mengatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas kerja dapat disimpulkan menjadi dua golongan yaitu: (1) faktor yang ada pada diri individu, yaitu umur, temperamen, keadaan fisik individu dan motivasi; (2) faktor yang ada di luar individu, yaitu kondisi fisik seperti suara, penerangan, waktu istirahat, lama kerja, upah, bentuk organisasi, lingkungan sosial dan keluarga.

Hubungan antara atasan dan bawahan akan memengaruhi kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Bagaimana pandangan atasan terhadap bawahan, sejauh mana bawahan diikutsertakan dalam penentuan tujuan. Sikap yang saling jalin-menjalin telah mampu meningkatkan produktivitas karyawan dalam bekerja.

Dengan demikian, jika karyawan diperlakukan secara baik, maka karyawan tersebut akan berpartisipasi dengan baik pula dalam proses produksi, sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja. Dengan perasaan karyawan yang merasa dihargai di dalam perusahaan maka fisik dan pikirannya akan bekerja dengan baik, konsentrasi dan juga dapat memberikan hasil kerja yang maksimal sesuai keinginan perusahaan. Begitu juga sebaliknya, apabila karyawan merasa tertekan dan kebutuhann jasmani karyawan tersebut tidak terpenuhi, maka karyawan tersebut tidak akan mampu bekerja dan memberikan hasil kerja yang maksimal terhadap perusahaan.

Yuniarsih (2013:159) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut.

1.    Faktor Internal

a.    Komitmen kuat terhadap visi dan misi institusional.

b.    Struktur dan desain pekerjaan.

c.    Motivasi, disiplin dan etos kerja yang mendukung ketercapaian target.

d.    Dukungan sumber daya yang bisa digunakan untuk menunjang kelancaranpelaksanaan tugas.

e.    Kebijakan perusahaan yang bisa merangsang kreativitas dan inovasi.

f.     Perlakuan menyenangkan yang bisa diberikan pimpinan dan /atau rekan kerja.

g.    Praktik manajemen yang diterapkan oleh pimpinan.

h.    Budaya organisasi/kerja, dan lingkungan kerja yang ekonomis

i.      Kesesuaian antara tugas yang diemban dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, minat, keahlian, dan keterampilan yang dikuasai.

j.      Komunikasi antar individu dalam membangun kerja sama.

2.    Faktor Eksternal

a.    Peraturan perundangan, kebijakan pemerintah, dan situasi politis.

b.    Kemitraan (networking) yang dikembangkan.

c.    Kultur dan mindsetlingkungan sekitar organisasi.

d.    Dukungan masyarakat dan stakeholder secara keseluruhan.

e.    Tingkat persaingan.

f.     Dampak globalisasi.

 

Menurut Umar (dalam Salinding, 2011:35) menyebutkan ada dua dimensi pada produktivitas.

1)    Efektivitas

Efektivitas yang mengarah kepada pencapaian untuk kerja yangmaksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu.

2)    Efisiensi

Efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan masukan (input) dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut terlaksana.

Melakukan perbaikan dari setiap sudut aspek penting dilakukan di dalam perusahaan guna meningkatkan produktivitas kerja setiap karyawan yang akan memberikan dampak postif bagi perusahaan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan berkaitan erat dengan perbaikan secara terus-menerus, yaitu dengan perbaikan kepada semua komponen oragnisasi. Pemberdayaan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada karyawan, memberikan kesempatan kepada karyawan untuk dapat mengembangkan diri dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.

 

I.      Pentingnya Kepemimpinan yang Efektif dalam Membangun Tim

Kepemimpinan sangat penting dalam tim karena pemimpin memotivasi, mengarahkan, dan menginspirasi anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin juga menciptakan lingkungan kerja yang positif dan efektif, serta memastikan setiap anggota tim memiliki peran dan bertanggung jawab.

Gambar 4


Berikut adalah beberapa poin penting mengenai pentingnya kepemimpinan dalam tim.

1.    Memotivasi dan Menginspirasi; Pemimpin yang baik mampu memotivasi dan menginspirasi anggota tim untuk bekerja lebih keras dan mencapai potensi terbaik mereka.

2.    Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif; Pemimpin yang efektif menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, mendorong kerjasama, dan mengurangi konflik di antara anggota tim.

3.    Mengembangkan Keahlian dan Potensi; Pemimpin memberikan dukungan dan pelatihan kepada anggota tim untuk mengembangkan keahlian dan potensi mereka.

4.    Meningkatkan Kinerja Tim; Dengan kepemimpinan yang efektif, kinerja tim secara keseluruhan dapat meningkat karena anggota tim bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, dan saling mendukung.

5.    Mencapai Tujuan Bersama; Pemimpin memberikan arahan dan visi yang jelas, sehingga setiap anggota tim dapat fokus pada tujuan bersama dan bekerja menuju pencapaiannya.

6.    Membantu Pemecahan Masalah; Pemimpin yang baik mampu membantu anggota tim dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, sehingga tim dapat mengatasi tantangan dengan lebih efektif.

7.    Menumbuhkan Rasa Percaya Diri; Pemimpin yang percaya diri mampu membangkitkan rasa percaya diri di antara anggota tim, sehingga mereka merasa lebih nyaman dan mampu mengambil risiko.

8.    Menumbuhkan Rasa Loyalitas; Pemimpin yang adil dan jujur mampu menumbuhkan rasa loyalitas di antara anggota tim, sehingga mereka lebih berkomitmen untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kepemimpinan yang efektif, tim dapat mencapai potensi terbaiknya, meningkatkan kinerja, dan mencapai tujuan bersama dengan sukses.

 

Gambar 5

Ada beberapa karakteristik kepemimpinan yang efektif.

a.    Visi yang jelas; Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki visi yang jelas tentang arah yang ingin dicapai. Visi tersebut harus memotivasi anggota tim dan membuat mereka bersemangat untuk mencapai tujuan bersama.

b.    Kemampuan berkomunikasi yang baik; Seorang pemimpin yang efektif harus mampu berkomunikasi dengan jelas dan persuasif agar pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh anggota tim.

c.    Kepercayaan diri; Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini akan membuat anggota tim merasa yakin dan percaya pada kemampuan pemimpin untuk memimpin mereka.

d.    Empati; Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kemampuan untuk memahami dan memperhatikan kebutuhan, masalah, dan perspektif anggota tim. Dengan demikian, pemimpin dapat memberikan dukungan yang tepat dan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah.

e.  Kemampuan untuk mengambil keputusan; Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berani. Keputusan tersebut harus berdasarkan informasi yang cukup dan dengan mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan tersebut.

f.  Kemampuan untuk memotivasi; Seorang pemimpin yang efektif harus dapat memotivasi anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan dukungan, pujian, dan penghargaan untuk kinerja yang baik.

g.   Fleksibilitas; Seorang pemimpin yang efektif harus dapat beradaptasi dengan perubahan dan situasi yang tidak terduga. Pemimpin yang fleksibel dapat mengatasi masalah dengan cepat dan memberikan solusi yang tepat bagi anggota timnya.

Secara umum, peran dapat diartikan sebagai serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu posisi atau status tertentu dalam sistem sosial. Peran ini mencakup tanggung jawab, tugas, dan harapan perilaku yang melekat pada posisi atau status tersebut, serta dapat berbeda-beda antara budaya, masyarakat, dan konteks yang berbeda. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memimpin, mengarahkan, dan mengkoordinasikan tindakan atau usaha orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan juga mencakup kemampuan untuk memotivasi, menginspirasi, dan membimbing anggota tim untuk bekerja secara efektif dan efisien.

 

J.    Membangun Sikap Kepemimpinan bagi Mahasiswa

Ketika seseorang memasuki dunia perkuliahan, kehidupan dan perkembangannya akan jauh berbeda saat masih SMA. Pola pikir mahasiswa akan terasah dan makin tajam. Cara pandang dalam menghadapi masalah pun akan berbeda. Tak cuma menjalani kuliah, mahasiswa pun didorong untuk lebih banyak aktif di kegiatan di luar akademik. Contohnya lewat berbagai organisasi yang ada di kampus.


Gambar 6


Kehidupan kuliah pada dasarnya tidak hanya berpusat pada kegiatan akademik, melainkan juga pengembangan diri. Sebelum menembus dunia kerja, para mahasiswa harus punya persiapan yang cukup. Selain hard skill dan pengetahuan, mahasiswa sebaiknya juga mengasah soft skill. Kepemimpinan menjadi contoh soft skill penting yang wajib diasah sebelum bekerja.

1.    Mahasiswa berusaha mengembangkan kemampuan dalam memimpin

Kepemimpinan bukan cuma bicara tentang bagaimana menjadi kepala bagi banyak orang. Lebih dari itu, kepemimpinan sebenarnya erat kaitannya dengan manajemen diri. Sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain, seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri. Kemampuan dalam memimpin dapat terasah lewat hal sederhana. Misalnya, tugas kelompok, kepanitiaan, hingga organisasi.

Mahasiswa harus berusaha belajar bagaimana menghadapi masalah, menggali akar masalah, menyelesaikan masalah, berpikir kritis, agar mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Begitu kemampuan dalam memimpin terasah, mahasiswa pun kelak lebih siap terjun ke dunia kerja.

2.    Mahasiswa Memahami Potensi Diri Sendiri

Mahasiswa agar lebih mengenali diri sendiri beserta potensi-potensi yang dimilikinya. Di dalamnya termasuk memahami apa kekuatannya, kelemahannya, hingga nilai dan prinsip yang dianut. Memahami diri seperti ini menjadi bekal bagus dalam kepemimpinan kelak. Karakter dan potensi diri tadi nantinya dapat membentuk pola kepemimpinan mahasiswa. Kepemimpinannya kelak menjadi lebih autentik dan tidak meniru gaya orang lain.

Selain itu, mengenali potensi diri juga bagus untuk meningkatkan rasa percaya diri para mahasiswa. Mereka jadi paham area mana yang harus dikembangkan serta area mana yang jadi kekuatannya.

3.    Mahasiswa Mampu Meningkatkan Soft Skill

Teori kepemimpinan melibatkan banyak sekali soft skill. Sebut saja mulai dari komunikasi, berpikir kritis, analisis masalah, pemecahan masalah, negosiasi, dan lain-lain. Untuk itu, hendaknya mahasiswa mengembangkan soft skill-nya. Ingat, kepemimpinan itu bisa dipelajari, bukan semata-mata bakat. Pengetahuan akan menjadi pemimpin yang baik pun bisa dipelajari sejak masih di bangku kuliah.

Praktik dari dasar-dasar kepemimpinan bisa langsung mahasiswa praktikkan dalam organisasi maupun kepanitiaan. Bahkan, bisa juga dalam skala lebih kecil, yaitu tugas kelompok. Bekerja sama dengan banyak orang akan sangat bagus untuk mempraktikkan teori leadership.

4.    Menyiapkan Diri untuk Karir

Sekalipun dunia kerja masih terasa jauh, mengasah kemampuan dalam memimpin akan jauh lebih baik jika dimulai dari sekarang. Dunia kerja itu jauh berbeda dengan dunia perkuliahan. Begitu banyak tantangan yang mesti dihadapi, terutama tentang bagaimana berelasi dengan orang lain. Tanpa persiapan matang, seseorang akan kaget dan sulit beradaptasi ketika memasuki dunia kerja. Maka, sudah sewajarnya mahasiswa tersebut menempati posisi leader dalam suatu organisasi. Percayalah, bekal kepemimpinan di bangku kuliah akan sangat bermanfaat untuk dipakai saat bekerja nanti.

Membangun sikap kepemimpinan pada mahasiswa penting karena Anda adalah calon pemimpin masa depan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah melalui pelatihan, organisasi, dan pengalaman nyata. Mahasiswa perlu mengasah kemampuan komunikasi, tanggung jawab, dan kerjasama tim. Selain itu, juga bisa belajar dari pemimpin yang sudah berhasil.

Beberapa manfaat membangun sikap kepemimpinan pada diri mahasiswa.

a.    Karier; Kemampuan kepemimpinan pada diri mahasiswa sangat bermanfaat dalam karier, baik di dunia kerja maupun dalam membangun bisnis. 

b.    Pengembangan Diri; Kepemimpinan membantu mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mandiri. 

c.    Keterampilan; Meningkatkan kemampuan komunikasi, manajemen, pengambilan keputusan, dan kolaborasi. 

d.    Inovasi; Mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah. 

e.    Masa Depan; Membentuk mahasiswa menjadi pemimpin yang kompeten dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. 

 

Langkah konkret untuk membangun sikap kepemimpinan pada mahasiswa dapat dilakukan dengan beberapa cara.

1) Pelatihan dan Kursus Kepemimpinan; Ikuti pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh kampus atau lembaga terkait atau ikuti kursus yang fokus pada pengembangan keterampilan kepemimpinan, seperti komunikasi, manajemen tim, dan pengambilan keputusan. 

2)    Organisasi dan Aktivitas Kampus; Jadilah anggota aktif dalam organisasi mahasiswa, seperti HIMA, BEM, atau unit kegiatan mahasiswa. Jangan takut untuk mengambil peran yang lebih bertanggung jawab, seperti menjadi ketua atau koordinator. Selain itu, dapat berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial untuk mengembangkan rasa tanggung jawab sosial. 

3)    Pengalaman Nyata dan Belajar dari Pemimpin; Berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan untuk belajar dari pengalaman mereka. Perhatikan bagaimana pemimpin melakukan tugasnya dan mengambil keputusan. Latih kemampuan berpikir kritis untuk menganalisis situasi dan mengambil keputusan yang tepat. 

 

 Tugas Mandiri Mahasiswa

  1. Bila Anda ditunjuk sebagai ketua kelompok dalam diskusi belajar, sebagai mahasiswa, bagaimana Anda menyeimbangkan kekuatan dan kelemahan Anda untuk menjadi pemimpin/ketua kelompok yang efektif dalam diskusi belajar tersebut? Berikan tanggapan Anda.
  2. Bagaimana Anda mendorong kreativitas dan inovasi di antara anggota kelompok/tim Anda? Berikan tanggapan Anda.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kartono, Kartini. (2016). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Pers.

Mutamimah. (2011). Globalisasi dan Kepemimpinan Transformasional. EKOBIS, Vol. 2, No. 1: 1-8.

Rivai, Veithzal. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Jakarta: Raja             Grafindo Persada.

Salinding, Rony. (2011). Analisis Pengaruh Pelatihan terhadap Produktivitas Kerja

Karyawan pada PT. Erajaya Swasembada Cabang Makassar. Jurnal Manajemen Volume VIII,             No. 1, Mei 2011, Halaman 83 – 106. Makassar: UNHAS.

Scott, G. William. (1962). Human Relation in Management a Behavioral Science.                                  Approach, Richard D. Irwin, Inc., Home wood, Illinois.

Sedarmayanti. (2017). Perencanaan dan Pengembangan SDM untuk Meningkatkan                         Kompetensi, Kinerja, dan Produktivitas Kerja. Bandung: P.T. Refika Aditama.

Siagian, Sondang. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Bumi Aksara.

Sutrisno, Edy. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi pertama. Jakarta:                                 Kencana Prenada Media Group.

Tannenbaum, R., Weschler, I. and F. Massarik. (1961). Leadership and Organization:                             Behavioral Approach. New York: Mc Graw Hill Book Co, Inc.

Terry, George dan Leslie W. Rue. (2015). Dasar-dasar Manajemen. Cetakan kesebelas.                     Jakarta: P.T. Bumi Aksara

Yuniarsih T. dan Suwatno. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPAYA MENCEGAH KORUPSI

KEARIFAN LOKAL